Untukmenjadi distributor Ban, Anda akan memerlukan pengetahuan tentang berbagai jenis ban dan manfaat mereka. Anda harus dapat memahami permintaan untuk setiap jenis Ban di wilayah Anda untuk berhasil dalam bisnis Anda. Anda akan perlu untuk mendapatkan bisnis lisensi serta resale ijin dari negara Anda. Belajar berbagai jenis Ban.
SjamsulNursalim ini juga pemilik PT Mitra Adiperkasa tbk (MAPI). Bisnis utama Perusahaan adalah memproduksi, menjual, memperdagangkan dan mendistribusikan: Ban radial (merk GT Radial) untuk mobil penumpang, truk, dan bus. Memberi kontribusi 42% revenue. Ban bias (merk Gajah Tunggal) untuk truk dan bus. Memberi kontribusi 26,4% revenue.
Tapi untuk jenis kebutuhan bahan yang tersegmentasi pada otomotif, mereka kurang peduli. Dari awal cerita ini, Charles dari PT. Karya Motor distributor ban Primaax yang merangkap Chief Head Marketing Primaax wilayah Sulawesi Selatan, rencananya akan merancang sebuah Mobile Primaax Center.
Jakarta(1 April 2022) - PT Bridgestone Tire Indonesia (Bridgestone Indonesia), bagian dari Bridgestone Corporation pemimpin global dalam Layanan Mobilitas Berkelanjutan dan Solusi Tingkat Tinggi, menghadirkan berbagai promo menarik selama gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2022 yang berlangsung 31 Maret-10 April 2022, di
SupplierBan Gajah Tunggal Paling Murah. Meski selalu menjadi supllier ban Gajah Tunggal yang tereprcaya namun untuk urusan harga Anda tidak perlu bingung. Karena selalu mematok harga ban Gajah Tunggal yang paling murah di Indonesia. Dimana harga ban Gajah Tunggal yang diberikan oleh Ralali.com akan selalu dapat dijangkau bahkan
IndoAutozone merupakan perusahaan distributor Ban Loader di Jakarta. Hubungi: 0877 8805 5651. Table Of Contents. Ban Loader Gajah Tunggal PR (Tire Only - Tubeless) Rp 22.958.000: Ban loader 10-16.5/10PR: Produk ini dapat mengatur rencana pemeliharaan Ban Loader dengan cara memonitornya dari jarak jauh. Beberapa produk
. JAKARTA. - Dalam sebuah pengembangan usaha, brand atau merek punya peran yang sangat penting. Semakin besar brand produk sebuah perusahaan itu, tentu akan menjadi aset tak terwujud paling bernilai. Sebuah brand juga berpengaruh kuat dalam penjualan sebuah produk perusahaan, seperti contohnya Gajah Tunggal Gajah Tunggal Tbk sebagai pemilik brand Gajah Tunggal berhasil meraih penghargaan Top 100 Most Valuable and Strongest Indonesian Brands 2021’ dari Brand Finance yakni konsultan penilaian merk indepen dunia yang berdiri sejak 1996 melalui Brand Finance Indonesia. Acara penganugerahan Top 100 Indonesian Most Valuable Brand’ sendiri digelar secara live streaming. Baca juga Begini Cara Benar Melakukan Rotasi Ban Mobil “Selamat kepada PT. Gajah Tunggal Tbk, meraih prestasi pada kategori Top 100 Indonesian Most Valuable Brand GOLD’,” ucap Jimmy Halim, Managing Director Brand Finance Indonesia dalam ucapan tertulisnya kepada PT Gajah Tunggal Tbk. Jimmy juga berharap di tahun 2022 Brand Gajah Tunggal bisa mencapai kinerja yang lebih baik dalam mendukung pertumbuhan bisnis PT Gajah Tunggal Tbk dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia yang masuk dalam peringkat Brand Finance Global 500 Most Valuable Ferdian/KompasOtomotif Stan GT Radial di IIMS 2014 Sementara itu, Head of Division Marketing PT Gajah Tunggal Tbk Leonard Gozali, menyatakan terima kasih kepada Brand Finance Indonesia untuk market researchnya dan juga kepada pelanggan setia produk Gajah Tunggal. Menurut Leonard, pelanggan selalu menjadi prioritas. Karena pelangganlah pihaknya mampu melakukan berbagai hal seperti riset dengan tujuan meningkatkan kualitas produk ban dalam memenuhi kebutuhan konsumen. “Melalui 4 produk Gajah Tunggal, yaitu GT Radial PCR, IRC MC, GITI TBR dan Gajah Tunggal BIAS kami berhasil menjadi ban yang dipercaya oleh ATPM sebagai ban OEM dan di export ke lebih dari 90 negara di dunia,” ucap Leonard. Stanly/KompasOtomotif GT Radial IIMS 2015 Baca juga Sirkuit Mandalika Siap Diaspal Ulang, Ini Tikungan yang Akan Diaspal Berikut ini kisaran harga daftar ban mobil GT pada Februari 2022 175/65/14 - GT Radial Champ Eco Rp 185/70/14 - GT Radial Champ Eco Rp 185/55/15 - GT Radial Champiro GTX Pro Rp 185/60/15 - GT Radial Champ Eco Rp 185/65/15 - GT Radial Champ Eco Rp 205/65/15 - GT Champiro BXT Pro Rp 185/55/16 - GT Radial Champiro GTX Pro Rp 195/50/16 - GT Radial GTX Pro Rp 235/60/16 - GT Radial Savero SUV Rp Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Direktur Utama PT Gajah Tunggal Tbk Sugeng Rahardjo tiga dari kanan, duduk, President United In Diversity Mari Elka Pangestu, Puteri Sjamsul Nursalim, Cherie Nursalim, Pemred Investor Daily Primus Dorimulu empat dari kiri serta sejumlah Pemimpin Media Massa, foto bersama usai buka puasa bersama di Jakarta, Rabu 8/5/2019. Foto Investor Daily/DAVID GITA ROZA JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk GT masih merajai pasar ban dalam negeri dengan pangsa pasar 50% untuk ban mobil dan 47% untuk ban motor. Direktur Utama GT Sugeng Rahardjo mengatakan, meskipun persaingan ban dalam negeri cukup ketat, perseroan tetap menjadi merek nomor satu dengan produk andalan GT Radial. “Rival kami kebanyakan dari asing, seperti Goodyear dan Bridgestone, tetapi kami tetap yang terdepan,” ujar dia di Jakarta, Rabu 8/5. Tidak hanya menguasai pasar ban nasional, dia menegaskan, perseroan menjadi eksportir terbesar ban asal Indonesia dan sering mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Pasar ekspor utama perseroan adalah Amerika Serikat AS sebesar 70%, kemudian Asia Pasifik, Eropa dan Timur Tengah. Menurut Sugeng, produk ban yang dihasilkan perseroan sangat berkualitas, sehingga disukai pasar dan permintaannya cukup tinggi. Merek yang laris di pasar ekspor masih sama, yaitu GT Radial yang memiliki brand image cukup kuat. Dia menegaskan, ban perseroan dibuat dari karet asli Indonesia sebesar 60%, sedangkan sisanya karet sintesis sebesar 40%. Perseroan juga memproduksi ban ramah lingkungan, yakni GT Radial Campiro Eco untuk mobil dan IRC Enviro untuk motor. GT didirikan pada 1951 oleh pengusaha nasional Sjamsul Nursalim dan telah berkembang menjadi produsen ban terkemuka. Emiten berkode saham GJTL ini memiliki18 ribu orang karyawan langsung dan karyawan tidak langsung, mulai dari distributor hingga penambal ban. Sugeng menuturkan, perseroan komit mendukung upaya pemerintah dengan meningkatkan penetrasi pasar global. Selain itu, perusahaan terus mendorong pengembangan SDM dan peduli lingkungan. Pada 1981, demikian Sugeng, melalui program corporate social responsibility, perseroan mendirikan Politeknik dan mendidik tenaga terampil dan dibuka bagi anak kurang mampu. Mereka mendapatkan pendidikan gratis selama tiga tahun dan uang saku setiap bulan dan bagi lulusan bisa langsung bekerja di GT. Perseroan, lanjut Sugeng, juga mengembangkan penelitian dan pengembangan litbang dan terus melakukan inovasi produk dan yang terbaru memproduksi produk ban ramah lingkungan. Perseroan juga melaksanakan program anak asuh agar dapat melanjutkan pendidikan mulai SD hingga SMA. Perseroan juga bekerja sama dengan sejumlah organisasi melalui kegiatan penataan lingkungan dan peduli isu lingkungan. Pada 2003, perseroan mendirikan Yayasan Upaya Indonesia United In Diversity Foundation untuk memberikan perhatian pada sektor pendidikan dan kesehatan. Yayasan ini sudah mendapatkan perhatian dunia internasional. Editor Gora Kunjana gora_kunjana Dapatkan info hot pilihan seputar ekonomi, keuangan, dan pasar modal dengan bergabung di channel Telegram "Official Lebih praktis, cepat, dan interaktif. Caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS
We are the largest integrated tire manufacturer in Southeast Asia, produces and distribute high quality tires for passenger car, SUV's, commercial, off-the-road, industrial and motorcycles. We also manufacture and distribute other rubber related products such as synthetic rubber, tire cords, inner tube, flap, o-ring and more.
PT Gajah Tunggal GT yang didirikan sejak tahun 1981 dikenal sebagai produsen ban terintegrasi. Selain memiliki pabrik ban sendiri, juga memiliki pabrik yang memproduksi materialnya. Saat ini pabrik di Tangerang dengan luas 250 hektare ha, diperkuat oleh karyawan. “Pasar kami saat ini sudah menembus ke seluruh benua, 76 pelanggan di seluruh dunia sudah percaya pada kami. Sekitar 120 juta ban sudah diekspor oleh GT sejak 1980-an hingga kini, tahun 1983 merupakan awal ekspor kami,” jelas William Gozali, GM Sales Expor, PT Gajah Tunggal kepada Herning Banirestu. Tahun 1983 merupakan awal ekspor GT, mereka melayani permintaan pasar Timur Tengah, untuk ban khusus terutama ban untuk kendaraan komersial seperti truk. Tahun 1992 pihaknya mulai ekspor ban mobil dan mulai tahun ini ekspor ban motor. Tahun 2011 ekspor GT 11 juta ban dengan nilai Rp 4 triliun. Karena adanya krisis Eropa dan Amerika yang merupakan dua market terbesar GT, memang ada penurunan jumlah ekspor namun secara nilai ekspor tetap bisa dijaga. “Market share di Asia, Afrika, Timur Tengah bisa kami jaga diatas 20%. Yang merupakan pasar emerging, Contoh di Srilanka 24% pangsa pasar, Yaman hampir 30%, Filipina 21%,” tegasnya. Pasar yang digarap, memang mengalami tantangan karena ekspor dipengaruhi kondisi guncangan ekonomi dunia, sehingga pada 2012 GT pun ikut terguncang. Apalagi lebih dari 60% ekspor GT ditujukan ke Amerka dan Eropa. Dengan kondisi tersebut, diatasi GT dengan menggarap pasar lain di luar Amerika dan Eropa, ternyata bisa mencapai pertumbuhan menarik seperti Asia, Amerika Latin kala itu masih ada ruang untuk tumbuh juga. Untuk distribusi ke berbagai negara, GT bekerjasama dengan beberapa importir di berbagai negara. “Kami deal langsung dengan importir, kami tidak punya anak usaha untuk menggarap ekspor ini. Rata-rata hubungan dengan importir kami itu sudah diatas 10 tahunan, jadi mereka cukup loyal juga. Kami dukung juga dengan berbagai training dan layanan lain untuk itu,” jelasnya. Sejak menurunnya pasar karena krisis global pada 2012, pihaknya mulai menggarap pasar khusus pabrik. Tahun itu pabrik mobil yang pertama dipasok adalah Pabrik mobil Proton, Malaysia untuk dua model mobilnya. Juga memasok ban untuk mobil Mitzubishi Strada Triton, Thailand di tahun yang sama. Tahun ini pihaknya sedang mengembangkan untuk bisa juga memasok ban untuk pabrik Suzuki dan Daihatsu. “Reputasi kami kuatnya di produk ban truk, kami punya produk ban baru TBR truck bus radial, yang mulai diekspor ke Volvo Group untuk truk mereka yang diproduksi di Thailand,” katanya. Di Indonesia GT sangat kuat, ban mobil nomor tiga terbesar sebagai merek lokal. Dengan dasar ini pihaknya terus mengembangkan ke pasar global. Dengan mengembangkan pasar ke luar negeri merupakan upaya menjaga brand equity juga. Ini menjaga awareness merek GT. “Kami pasang billboard di Saudi Arabia, Srilanka, Lebanon, dan Malaysia. Juga membuat website, online marketing, social media activity. Kami juga membuat joint promotion dengan importir GT, untuk membuat ritel konsep dengan nama GT Radial Performance Center. Memfokuskan nama GT Radial dengan langkah ini,” imbuhnya. GT juga menjadi sponsor ekspedisi dari Jakarta ke Roma sepanjang 23 ribu km yang dijelajahi, juga menjadi sponsor di AFF Cup. “Kami juga mengikuti show di Accent pada tyre show yang diadakan dua tahun sekali di sana, untuk mengembangkan pasar dan memperkuat merek GT,” katanya. Saat ini GT bisa dibilang sudah memenuhi sertifikasi internasional, walau banyak syarat yang harus dipenuhi. “Kami punya kekuatan R&D, sehingga upaya sertifikasi itu bisa dicapai hasil bagus,” katanya. Ini juga bagian untuk menjawab permintaan pasar. Pihaknya sedang membangun proving ground terbesar di Asia Tenggara seluas 65 ha, yang tahap satu dan tahap dua akan selesai tahun depan. Diharapkan dengan itu makin menambah kepercayaan internasional. Politeknik yang dimiliki GT adalah upaya mereka dalam mendapat SDM terbaik, karena faktor manusia dipandang sebagai hal terpenting dalam kemajuan bisnis. Ketika pertama kali berdiri merek yang digunakan Gajah Tunggal, tapi seiiring perjalanan waktu karena diversifikasi produk, ternyata merek Gajah Tunggal sulit dibaca oleh konsumen terutama yang orang asing. “Akhirnya jadi sebutan yang aneh, lalu dicari solusi yang konsumen asing mudah mengingat, dengan membangun merek GT Radial,” ujarnya. Di ban menurut William ada tiga segmen yaitu premium, value, dan budget. Ban premium kebanyakan dipersepsikan ban-ban produksi Eropa. Ban di segmen budget banyak dipersepsikan pada ban produksi Cina. “Kami memilih berada di ban dengan segmen value. Banyak konsumen sebagai komponen penting dalam mobil, mereka memperlakukan ban sebagai distress product, setelah botak baru ganti,” katanya. Lalu bagaimana membangun merek dengan kondisi tersebut? GT melakukannya dengan visual marketing, melalui iklan dan website. Mengapa website? Karena di berbagai negara website sangat banyak dikunjungi. “Setelah masuk ke pasar internasional, berarti merek kita diakui,” tegasnya. Untuk CRM, diatur seberapa cepat dari order hingga pengiriman barang. Training dilakukan juga oleh GT dengan semua partner penjualannya di luar negeri, seperti sales training, product training, up date manajemen dan sebagainya. Itu semua dibawah GT Radial Performance Center yaitu bagian dari pengembangan nilai merek ban mereka. “Ini bagian kami dalam melakukan bonding dengan buyer, memang ada beberapa kendala, seperti pasar yang masih tradisional di Afrika dan Libya, yang tidak mau mengikuti penjualan seperti dibangun GT Radial, mereka maunya jualan biasa saja. Kami coba ikuti, baru perlahan mengajak lebih modern,” jelasnya. Memang agak sulit awalnya dari trader menjadi brand owner. Untuk mendukung ini ada kantor representasi dan orang di sana yaitu Amerika dan Eropa. Mereka ini memahami bahasa dan kultur setempat, terutama Eropa yang beragam. “Ban yang kami ekspor itu hanya ban mobil dan truk, kalau ban motor untuk memenuhi kebutuhan lokal saja masih kurang,” tegasnya. Seluruh bahan baku utama ban, yaitu karet diambil dari hasil perkebunan karet lokal. Kekuatan GT menurut William, untuk pasar ekspor pada R&D produknya. Kompetisi yang sangat kencang mendorong GT memenuhi produk yang diminta oleh pasar pasar untuk produsen mobil dan umum, itu semua dijawab melalui R&D. “Mulai dari karakter pasar di sana, karakter jalanannya bagaimana dan jenis kendaraannya. Mobil itu ibarat sepatu, harus pas ukuran dan bentuknya,” katanya. GT menurut William tidak membuat ban yang sesuai dengan kondisi pasar. Menurutnya ada pemain yang membuat ban, one size fit all, hal itu tidak mereka lakukan, karena tidak tiap negara bisa menerima jenis ban tersebut. “Ekspor kami saat ini 40% dari total produksi,” ujar pria yang sudah 11 tahun di divisi ekspor dan di GT. Tiap tahun rata-rata pertumbuhan pasarnya sekitar satu kali lipat terutama dari 2011 ke 2012. Kesulitan memasok ke pabrikan di luar negeri, menurut William karena tiap pabrikan biasanya punya pabrik ban sendiri, atau seringnya jika pabrik anjlok penjualannya, maka pemasokan ban ke sana ikut menurun. “Selama kami bisa masuk ke pabrikan, berarti kami sudah memenuhi standar tertentu yang diminta pabrikan tersebut. Konsumen biasanya tidak mau pusing, akan menggunakan ban yang sudah dibawa mobilnya,” jelasnya tentang keunggulan masuk ke pabrikan. Dan bagi konsumen di luar pun akan melihat jika GT ada di merek mobil tertentu, apalagi di merek yang besar, mereka akan mencoba membeli untuk digunakan di mobilnya. Customer di luar negeri mereka anggap sebagai partner. “Kami anggap hubungannya seperti hubungan suami istri, bukan pacaran, jadi ada komitmen,” tegasnya. Dengan komitmen jangka panjang pada partner, ia yakini mereka bisa menjaganya seperti merek sendiri, karena dijadikan merek sebagai milik bersama. Target tahun depan, dijawab William, tiap tahun ia berharap bisa terus meningkat. “Tahun ini kami tidak bisa menebak, karena kondisi ekonomi dunia. Customer kondisinya juga mengalami depresiasi, barang jadi mahal, jadi partner juga berat,” imbuhnya. Masih belum stabilnya kondisi ekonomi di Amerika dan Eropa, dirasakan berat untuk diprediksi. Untuk itulah pihaknya sudah mulai serius mengelola pasar lain seperti Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan. Kecuali Cina, kurensi negara tujuan tersebut cukup berdampak akibat kondisi ekonomi dunia juga. Namun kondisinya jauh lebih bagus dibanding Amerika dan Eropa. Tapi GT merasakan India ada kesulitan sendiri terutama pada sisi perizinannya yang menurutnya tidak jelas apa yang harus dipenuhi. “Tim ekspor kami ada 7 orang, yang menjual di 76 negara untuk pasar ekspor. Seluruh negara yang dikelola dibagi menjadi lima region, yang rata-rata ada 10 hingga 11 negara. Jadi ada orang yang di sana, ada juga yang di sini yang kelola,” jelasnya. Namun William terus keliling mengontrol pasar ekspornya. Untuk pasar ekspor, William menuturkan memang pada tujuan akhir GT akan makin fokus di sini. “Dengan kondisi Amerika dan Eropa yang lesu saat ini, kami terus melakukan penetrasi ke negara-negara lain yang potensial,” ujarnya. Tahun 2010 kala mulai turun sudah mulai,mencari pasar ke negara lain, tapi memang tidak disangka kondisi sulitnya merembet hingga awal 2013. “Tahun 2012 Amerika membuka anti dumping pada produk Cina, itu membuat kami turun cukup signifikan,” katanya. Harga karet yang melorot pun membuat kondisi importir di negara lain mengalami kepanikan, dengan beli terus. Beruntung saat ini harga karet sudah mulai stabil. Tahun depan, pihaknya harus bersiap dengan banyak kejutan yang akan dihadapi. Maka itulah membangun kekuatan merek adalah jalan untuk produknya menjadi pilihan utama. Menurut William, Mesir sebenarnya pasar GT yang paling potensial, pembelian tinggi, namun kondisi politik di sana memang menyulitkan juga. Walau penjualan tidak menurun. Hanya saja pengiriman uang agak sulit karena tidaka ada US$r. “Kami harus menunggu mengumpulkan uang dulu, ya memang agak slowdown. Ini sama dengan kondisi Libya juga, kala ribut perang, kami sempat slowdown kirim, setelah tenang baru kirim lagi,” katanya. Syria adalah salah satu negara yang bagus penjualannya harus dihentikan karena kondisi politik yang buruk. ***
Jakarta Ban menjadi kelengkapan yang sangat penting pada sebuah kendaraan. Komponen kendaraan yang terbuat dari karet dan biasanya berwarna hitam ini merupakan peranti yang menutupi velg roda. Ban berguna untuk melindungi roda dari kerusakan, mengurangi getaran yang disebabkan permukaan jalan yang tidak rata, serta memberikan kestabilan antara kendaraan dan permukaan yang dilalui oleh kendaraan. Profil PT SOS, Perusahaan Alih Daya Terbesar di Indonesia Profil PT Petrokimia Gresik, Sejarah, Manajemen, dan Prestasi Profil PT Ultra Prima Abadi, Sejarah, Produk, dan Prestasi Ban juga memiliki fungsi sebagai peningkat percepatan dan mempermudah pergerakan kendaraan. Salah satu produsen ban yang cukup terkenal dari Indonesia adalah PT Gajah Tunggal. Kualitas produk ban yang dihasilkan PT Gajah Tunggal bahkan tersohor hingga negara-negara lain di Asia Tenggara. Selain memproduksi ban PT Gajah Tunggal juga memproduksi barang yang berbahan dasar karet lain seperti karet sintetis, benang ban, ban dalam, dan lain-lain. Indonesia memang salah satu penghasil karet terbesar di dunia yang merupakan bahan utama pembuatan ban. Tidak heran bila banyak perusahaan ban berkualitas berasal dari Indonesia. Berikut ulasan tentang usaha PT Gajah Tunggal yang dirangkum dari berbagai sumber, Rabu 14/12/2022.Ban dan Velg sangat berpengaruh untuk penampilan sebuah kendaraan. Berikut ini cara memilih ban dan velg yang satu kegiatan PT Gajah Tunggal di mudik Lebaran istimewaPT Gajah Tunggal atau GT memulai perjalanan usahanya pada 1951 dengan memproduksi ban mendistribusikan ban luar dan ban dalam untuk sepeda. Perusahaan ini konsisten memproduksi ban sepedah dengan kualitas yang baik, namanya mulai dikenal ke seluruh penjuru Indonesia. Dua puluh tahun kemudian PT Gajah Tunggal mulai merambah ke ban untuk kendaraan bermotor. Perusahaan ini menandatangani kontrak kerja sama dengan Inoue Rubber Company atau IRC yang berasal dari Jepang pada 1971. Di tahun yang sama GT meluncurkan produk ban luar untuk sepeda motor. Kualitas produk yang semakin diakui mendorong GT untuk mengembangkan jenis produknya. GT mulai memproduksi ban bias yang diperuntukan untuk kendaraan niaga pada 1981. Produk ini dibuat dengan bantuan teknik dari Yokohama Rubber Comapy dari Jepang. Melihat kesempatan pasar yang menjanjikan, PT Gajah Tunggal merasa membutuhkan modal yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya. GT kemudian mendaftarkan diri di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada 1990. Namanya kemudian menjadi PT Gajah Tunggal Tbk. Benar saja setelah melantai di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya, bisnis PT Gajah Tunggal semakin berkembang. Bahkan setahun kemudian, perusahaan ini mengakuisisi PT GT Petrochem Industries, sebuah produsen kain ban dan benang nilon. GT kembali mengembangkan produknya dengan memproduksi ban radial yang diperuntukan untuk mobil dan truk ringan pada PT Gajah TunggalPT Gajah Tunggal Tbk berambisi untuk mendongkrak penjualan di tahun 1995, GT kembali mengakuisisi perusahaan lain yaitu PT Langgeng Baja Pratama, sebuah produsen kawat baja. Berlanjut pada tahun 1996, GT mengakuisisi PT Meshindo Alloy Wheel, produsen velg berbahan aluminium terbesar kedua di Indonesia. Sementara itu, PT GT Petrochem Industries, perusahaan pertama yang diakuisisi oleh GT, mulai memproduksi karet sintetis, etilen glikol, benang polyester, dan serat poliester. GT kembali menandatangani kontrak kerjasama dengan Nokian Tyres Group, perusahaan manufaktur ban asal Finlandia, untuk memproduksi beberapa jenis ban mobil penumpang pada 2001. Ban yang diproduksi termasuk ban untuk medan bersalju yang di jual di luar Indonesia. Sempat terjadi restrukturisasi di dalam PT Gajah Tunggal akibat krisis moneter yang terjadi pada 1998. Namun proses restrukturisasi ini sudah mulai diselesaikan pada 2002, sehingga utang perusahaan turun lebih dari US$ 200 juta dan utang ke FRN juga dikonversi. Dua tahun kemudian GT resmi menyelesaikan proses restrukturisasi, dengan dipisahnya laporan keuangan perusahaan ini dan PT GT Petrochem Industries. GT kemudian mengakuisisi aset Tire Cord TC dan Styrene Butadiene Rubber SBR milik PT GT Petrochem Industries di tahun yang sama. Perusahaan ini pun mendivestasi PT Langgeng Baja Pratama dan meneken perjanjian dengan Michelin, di mana perusahaan ini akan memproduksi ban bermerek Michelin untuk diekspor ke luar Indonesia. Pada tahun 2005, perusahaan ini mendivestasi PT Meshindo Alloy Wheel. Selain itu GT juga menerbitkan dana obligasi senilai 325 juta Dolar AS. Dana hasil obligasi digunakan untuk membeli kembali sejumlah wesel bayar dan untuk membiayai ekspansi perusahaan. PT Gajah Tunggal meluncurkan Champiro Eco, ban buatan Indonesia pertama yang ramah lingkungan. Peluncuran produk ini dihadiri oleh Mentri Perdagangan, Mari Pengestu. Setahun kemudian GT berhasil mengekspor 10 juta ban radial dan menjapai lebih dari 10 triliun hasil penjualan bersih. Kebutuhan produksi yang meningkat mendorong GT untuk membeli sebidang tanah di Karawang pada 2012. Lahan ini kemudian dimanfaatkan sebagai silitas pengujian dan lokasi ekspansi bisnis di masa depan. Pada 2014, dibangun pabrik khusus untuk memproduksi ban radial truk dan bus. Pada tahun 2016, diluncurkan ban Giti TBR dan meresmikan fasilitas pengujian di Karawang. Pada tahun 2018, bersama IRC, perusahaan ini mendirikan PT IRC Gajah Tunggal Manufacturing Indonesia untuk memproduksi ban sepeda motor berperforma tinggi. * Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
cara menjadi distributor ban gajah tunggal